11 Juli 2010

Jeram Maut Cisadane

Pic. mengangkat perahu
10 Juli 2010…
STATUS Faris Arabi alias Arab: “Perjalanan divisi olah raga arus deras (ORAD). Bersama Jenderal besar Bima Sukma (Bima), Mayor Jenderal Trisunu Aji Ismail (Sunu), Kapten Faris Arabi (Arab), Ahli navigasi air Hadya Utama (Bulek), Anak buah perahu Ryski Nur Rahmdan (Breki), Muhammad Iqbal (Iqbal), dan Afret Nobel (Nobel). (Rasa takut akan selalu muncul dari kepercayaan yang hilang dan keragu-raguan yang bergelombang)”.
Sialan si Arab, mentang-mentang gue anak baru di rafting, gue dijadiin anak buah perahu (ABP) (plesetan dari ABK: Anak Buah Kapal), tapi tak apa-apa, gua gak kan marah, gue tau diri karena gue emang manis.
Kami berangkat dari sekret (sekretariat) kapa di kampus teknik-UI menuju Bogor sekitar pukul 15.00 wib. Dengan menumpang kereta ekonomi jurusan Bogor. Perjalanan yang biasanya hanya sekitar 45 menit kami tempuh selama hampir 2 jam karena kebetulan kereta sedang ada gangguan. Kereta berhenti lama sekali sebelum stasiun Cilebut. Singkat cerita kami sampai di stasiun Bogor dan menyewa sebuah angkot untuk mengantar kami ke starting point. Setibanya di desa Bantar kambing, terdapat dua percabangan jalan, supir angkot yang tidak tahu jalan memaksa kami untuk bertanya arah, “Jembatan besi arah mana, Pak” Breki bertanya kepada sekumpulan tukang ojeg yang mangkal di persimpangan, “Arah kiri, mas. Mau nyari mayat ya? Jawab dan tanya salah seorang tukang ojeg. Kamipun melanjutkan perjalanan. Mayat? Mayat apa yang diamaksud tukang ojeg tadi? Pertanyaan itu gue sampaikan ke Iqbal yang duduk di samping gue. Dan dia menjawab, “8 Juni lalu ada 3 orang yang tenggelam di Cisadane dan satu mayatnya belum ketemu”. Akhirnya kami tiba di starting point, kami ngecamp di sebuah gudang tua yang tak jauh dari pinggir sungai. Dan mengatur strategi pengarungan untuk besok.
11 Juli 2010…
Pukul 06.00 semua anggota team gue bangunin, kebetulan gue yang dapat tugas untuk membangunkan anggota. Bima sudah bangun duluan, sebagai PJ (penanggungjawab) konsumsi, dia sudah bersiap-siap memasak makanan untuk sarapan pagi ini. Sembari Bima menyiapkan makanan, gue mempersiapkan peralatan untuk pengarungan. Perahu, pelampung, dayung, dry bag, pompa dan perbekalan sudah beres, sekarang saatnya makan. Menu ikan sarden, telur asin, dan mie goreng ala chef Bima terasa nikmat sekali, karena emang enak atau karena kelaparan? Masa bodoh.
Pic. sarapan
Selesai makan, aku, Arab, Sunu, Breki mengangkat perahu karet merek orion ke pinggir sungai. Perahu bercorak merah kuning dan hitam dianalogikan Breki sebagai warna bendera Jerman. Jerman tak ada sangkut pautnya dengan pengarungan kali ini. Kami melakukan pemanasan dan sedikit latihan penyelamatan dengan rescue rope. Anggota yang akan berangkat berjumlah 5 orang dalam satu perahu. Sedangkan 2 orang sisanya (Bima dan Iqbal) menjadi penjaga beskem.
Menurut Mayor Jenderal Trisunu Aji Ismail (Sunu), salah satu teman yang ikut dalam pengarungan, sungai Cisadane mempunyai grade 1. Penilaian grade didasarkan pada tingkat susahnya sebuah jeram dilalui. Semakin susah maka semakin tinggi nilai grade nya dan juga akan semakin bahaya. Sunu bertindak sebagai skipper yang bertugas menjadi pemimpin atau kapten perahu yang juga mengarahkan jalannya perahu. Posisinya berada sendirian di belakang. Sedangkan 4 orang lainnya (aku, Arab, Breki dan Bulek) bertugas sebagai pendayung yang posisinya di kiri dan kanan perahu. Kami memulai pengarungan dengan doa terlebih dahulu.
Di jeram-jeram awal kami tidak mengalami kendala yang berarti karena memang berhadapan dengan jeram-jeram yang kecil. Sungai yang lebar dan tebing-tebing yang curam menjadi penghibur perjalanan. Beberapa orang pemancing juga kelihatan. Sesekali kami bermain terjun bebas dari perahu ketika terdapat aliran yang tenang dan dalam. Tiba-tiba gemuruh air di jeram depan terdengar sangat keras. “Itu jeram naga” cetus kapten Sunu. Mendengar namanya saja membuat gue ciut. Apakah gerangan jeram naga tersebut?
Kami memutuskan untuk beristirahat sejenak di depan mulut jeram naga. Sembari makan roti yang dilumuri susu cokelat, kami mengatur strategi untuk melewati jeram tersebut. Sebelum melewati jeram, biasanya kita harus mengadakan scouting (penyelidikan) terhadap jeram yang akan kita lalui. Scouting bisa dilakukan di atas perahu atau berhenti ke darat jika tidak yakin dengan scouting dari atas perahu. Setelah mengetahui kondisi jeram, maka kita akan mengatur strategi jalur yang akan kita lalui.
Setelah selesai istirahat dan mengatur strategi, kami mulai pengarungan lagi. Kami membagi jeram naga menjadi 4 jalur dan kami akan melewati jalur ke 3, jalur yang menurut kapten Sunu menarik. Tapi perasaan gue gak enak, kalau melewati jalur 3, otomatis kita akan melewati undercut (bagian ceruk di tikungan sungai, goa yang terbentuk akibat gerusan air). Seperti yang gue dengar dari kapten Sunu, belum ada cerita orang yang lolos kalo ke sedot oleh undercut. Tapi apa boleh buat, perahu sudah melaju menuju jalur 3. Teriak kapten Sunu membakar semangat kami berempat sebagai pendayung. Kami mendayung semakin cepat dan semakin cepat. Kami berharap bisa melewati bagian undercut, tapi derasnya air membuat dayungan kami tak berarti. Posisi perahu berada tegak lurus dengan arah arus, kapal kami tersangkut di mulut undercut dan dalam hitungan detik kapal kami terbalik. Gue merasa bakalan mati saat itu, tapi Tuhan belum mengizinkan. Posisi gue berada persis di bawah perahu, gue memegang erat tali pada sisi perahu dan lolos dari undercut. Kami berempat selamat berkat berpegangan dengan perahu. Kok berempat? Satu lagi mana? Kami kehilangan kapten Sunu. Terakhir aku lihat dia tertahan di mulut undercut.
Kami berempat mencoba menepikan perahu, kami kehilangan skipper kami, kapten sunu. Gue cemas, Arab dengan suara tertahan berteriak-teriak memanggil Sunu, Bulek hampir menangis, breki juga berteriak. Baru 5 menit yang lalu kami berbincang di mulut undercut. Bulek terbayang-bayang saat-saat terakhir bersama Sunu, itu yang membuat dia sedih. Lebih dari 3 menit kami berteriak-teriak memanggil, namun tak ada jawaban. Kami gak mungkin kembali ke depan karena arus sangat deras, kami tak tahu apa yang akan kami lakukan selain berteriak. Setelah suara kami hampir habis, kapten Sunu pun muncul dari balik tebing. Kami berteriak bahagia. Kapten kami kembali, tetapi tanpa dayungnya.
Pic. mulai mengarung
Ini kisahku, apa kisahmu?

1 komentar:

  1. kisah tragis di banjarmasin....
    hancurrr....

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar.