15 Juli 2011

22 Anak Gede Mendaki Gunung Gede

Sekitar pukul 18.00 wib, kami berkumpul di kontrakan Arya, kontrakan yang menjadi beskem anak-anak. Di sana sudah menunggu beberapa orang teman, diantaranya Lazuardi, Tegar, Arya, Fanju, Imam, Fahmi, Ace, Mac, Ben, Gebi dan Fajar. Tegar meyakinkan Lazuardi yang tengah bimbang untuk ikut dalam pendakian ini, dan berhasil. Kamipun beranjak dari beskem menuju stasiun UI sekitar pukul 19.30 wib.

Dari stasiun UI, kami naik kereta Commuterline dengan membayar tiket Rp.7000 per orang, kereta jam segitu lagi penuh-penuhnya, untung saya masih bisa nyempil diantara mereka yang berdesakan. Sekitar 30 menit perjalanan, kamipun tiba di stasiun Bogota (Bogor).

Di stasiun Bogor, Sheba yang berangkat dari Bojong Gede sudah menunggu dari tadi, gak tanggung-tanggung, Sheba membawa serta seluruh keluarganya. Perjalananpun dilanjutkan dengan menyewa angkot menuju Cibodas. Harga sewa angkot  Rp.210000 per angkot. Tiba di Cibodas sekitar pukul 23.00 wib.
Gunung Gede
Udara dingin Cibodas seketika menyerang segerombolan anak muda yang penasaran ingin menaklukkan Gunung Gede. Kami menginap di warung mang Iding, warung yang sudah terkenal namanya seantero pendaki Gunung Gede Pangrango. Arya mengeluh kedinginan, dan tiba-tiba Fanju nyeletuk : “Kucing disini aja gak pake jaket berani”. Sambil menunjuk seekor kucing belang putih yang lagi santai.

Hari sudah mulai larut, udara semakin dingin, sekitar pukul 01.00 wib (16 Juli 2011) kami istirahat tidur. Ternyata tak seperti yang dibayangkan, untuk tidur saja susahnya minta ampun, berisik sekali di sini. Dasar “si telor dadar telor ceplok” sialan. Dengan hati gondok, akhirnya kami tertidur juga, mesti beberapa teman ada yang mengaku tak bisa tidur semalaman.

Pukul 05.00 wib, kami bangun. Setelah sholat subuh berjamaah dan senam-senam kecil, serta dimulai dengan doa, kami memulai pendakian.
Sunrise Gunung Gede
Menapaki jalan setapak berbatu dan berundak, langkah kaki Lazuardi yang tadinya ragu kian mantap karena tak mungkin rasanya pulang sendirian. Setelah melapor di pos pelaporan, kami melanjutkan perjalanan sampai Pos Panyangcangan. Sebagian dari kami yang lapar, mulai makan nasi yang tadi dibungkus sebelum berangkat. Dan sebagian lagi makan sekitar pukul 10.00 wib.

Setelah acara makan memakan, kami melanjutkan perjalanan dan tiba di air panas sekitar pukul 12.00 wib. Berendam kaki sejenak di air yang hangat untuk mengendorkan otot-otot yang mulai menegang, dan perjalananpun berlanjut. Kami tiba di Kandang Badak sekitar pukul 14.00 wib dan istirahat makan siang sekitar 1 jam.

Hari sudah mulai gelap, lembayung senja bersinar redup di langit ketika kaki menapaki “Tanjakan Setan”, begitu nama tanjakan yang sering di sebut-sebut para pendaki Gunung Gede. Tanjakan sekitar 75 derajat yang sudah dilengkapi tali agar mudah dilalui. Vegetasi yang tadinya berupa pohon-pohon besar nan rimbun berganti dengan pohon-pohon kecil yang kokoh dan menempel di bebatuan. Kami melakukan Summit Attack sekitar pukul 17.00 wib. Dan kami tiba di puncak yang memakan waktu sekitar 12 jam perjalanan.

Udara malam di puncak semakin menjadi-jadi, berhasil membuat Fahmi muntah-muntah yang merupakan reaksi normal tubuh dalam penyesuaian ketinggian. Tenda yang tadinya berkapasitas 3 orang berhasil kami isi 5 orang, tentu saja posisi tidurnya selang-seling sedemikian rupa. Tanpa sadar Ace mengemut jempol kaki adiknya saat ngelindur.

Pukul 02.00 wib, saya sempat terbangun oleh suara Mac di luar tenda. Ada2 saja, mereka lebih memilih bikin api unggun daripada meringkuk di dalam kantung tidur. Dan Lazuardi pun menyerah oleh dinginnya angin malam pegunungan.

Pagi hari sekitar pukul 06.00 wib, tak ada ayam berkokok yang membangunkan kami. Sebagian dari kami sudah bangun dari tadi karena mengincar jepretan Sunrise di puncak gunung. Sementara saya lebih memilih molor di dalam tenda. Terlebih lagi Ace dan Ben, dari tadi malam tidurnya kelihatan begitu pulas.

Pic. Surise di Gunung Gede
Karena kehabisan air minum, sekitar pukul 08.00 wib kami melanjutkan perjalanan turun ke Surya Kencana (surken). Surya Kencana, sebuah lembah di antara Gunung Gede dan Gunung Pangrango. Sebuah dataran luas yang ditumbuhi bunga-bunga Edelweis yang indah, namun sayang Edelweis belum bermekaran. Di Surken, kami pesta makan. Mulai dari sarden, kornet, sampai sayur ‘ala Sheba Bilqis yang lumayan enak. Jam sudah menunjukkan pukul 02.00 wib. Setelah makan kenyang, sholat dan packing, kami melanjutkan perjalanan turun. Dan sesungguhnya petualangan baru dimulai.


Sheba di Tengah Edelweis Surya Kencana
Di perjalanan, rombongan terbagi otomatis menjadi 3 bagian. Niken dan Didi meluncur jauh Di depan diikuti Fajar dan Imam. Saya dan beberapa teman lainnya berada di rombongan tengah. Sedangkan Sheba dan keluarganya berada pada rombongan paling belakang karena harus menunggu Kak Joke yang cedera kaki.


Di rombongan tengah, Gebi dan Fahmi mulai pincang. Bahkan Gebi sempat beberapa kali oyong dan jatuh. Rombongan awal dan tengah kembali berkumpul di perbatasan perkebunan. Hari sudah mulai gelap, namun rombongan belakang masih belum kelihatan. Kami memutuskan untuk menunggu. Karena sudah mulai kedinginan, kami terpaksa melanjutkan perjalanan. Beberapa langkah meninggalkan perbatasan, dari atas hutan muncul suara gaduh dan sinar senter, rombongan belakang sudah datang.
Nobel, Tegar (bom2), Ace, Mac, Ben, Fajar, Lazuardi, Gebi, Fanju, Arya, Imam, Sheba, Daden, Joke, Rijal, Tami, Miya, Fahmi, Hardian karyo, Diah, Niken dan Didi

5 komentar:

  1. gokil..
    pantesan gw nelponin anak2 dari jam 1 siang ga ada yg angkat, eh baru bisa jam 6 sore..
    alhamdulillah akhirnya pada selamat..
    (fahri)

    BalasHapus
    Balasan
    1. kapan kita naik gunung pangrango atau ciremai?

      Hapus
  2. Ayo2 aja dah kalau bisa setelah sidang hahahahaa

    BalasHapus
  3. Anak teknik sipil wajib mendaki gunung.

    BalasHapus

Terimakasih sudah meninggalkan komentar.